Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Orang Kreatif Cenderung Tidak Jujur

Written By Ella on Kamis, 01 Desember 2011 | 20.28

Orang-orang kreatif cenderung berpikir 'outside the box', anugerah kelenturan daya pikir yang ternyata juga dapat diterapkan untuk hal-hal yang menyentuh etika. Sayangnya, menurut penelitian terbaru, orang yang kreatif lebih cenderung tidak jujur.



Dalam serangkaian percobaan yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology, peneliti menguji lima kelompok yang terdiri dari masing-masing sekitar 100 orang. Pada tiap kelompok, para peneliti memberikan tes untuk mengetahui tingkat pemikiran kreatif dan kecerdasan peserta. Kemudian, peneliti memberi peserta tugas-tugas yang dirancang agar peserta dapat berbuat curang dengan mudah.



Para peserta diberi kuis pengetahuan umum yang berisi pertanyaan-pertanyaan seperti "Seberapa jauh lompatan kanguru?" dan "Apa ibukota Italia?". Peserta diberitahu bahwa mereka akan mendapat uang 10 sen untuk setiap jawaban yang benar. Peneliti kemudian meminta peserta tes untuk menyalin jawaban mereka yang dilingkari pada lembaran jawaban soal. Peneliti menjelaskan bahwa ia tak sengaja mengkopi kunci jawaban sehingga jawaban yang benar sedikit terlihat pada lembar jawaban soal.



Para peserta diberi penjelasan bahwa kecurangan apapun tidak akan terdeteksi ketika mereka menyalin jawaban. Namun dalam kenyataannya, setiap kertas jawaban memiliki kode unik yang dapat mengenali masing-masing peserta. Para peneliti menemukan bahwa orang yang mendapat skor tinggi dalam tes kreativitas lebih mungkin berbuat curang ketika mengisi lembar jawaban.



Dalam percobaan kedua, peserta diperlihatkan gambar-gambar garis diagonal dengan titik-titik di kedua sisinya dan diminta menentukan sisi manakah yang memiliki titik lebih banyak. Dalam setengah dari 200 percobaan, hampir mustahil untuk mengatakan sisi manakah yang memiliki lebih banyak titik.



Tetapi peserta sudah diberitahu bahwa mereka akan dibayar 10 kali lebih banyak jika mengatakan bahwa sisi kanan memiliki titik lebih banyak. Orang-orang mednapat skor kreativitas yang tinggi lebih cenderung memilih sisi kanan.



"Dilema seringkali menempatkan orang untuk menimbang dua hal yang bertentangan: keinginan untuk memaksimalkan kepentingan diri sendiri dan keinginan untuk mempertahankan pandangan positif terhadap diri sendiri," kata peneliti, Francesca Gino, profesor bisnis dari Universitas Harvard seeprti dilansir Time Healthland, Rabu (30/11/2011)



Menurut para peneliti, ketidakjujuran dan inovasi adalah dua tema yang paling banyak ditulis di dalam media populer. Namun sampai saat ini, hubungan antara kreativitas dan perilaku tidak jujur ​​belum diteliti secara empiris. Temuan ini menunjukkan bahwa orang yang kreatif atau bekerja di lingkungan yang mendukung pemikiran kreatif mungkin yang paling berisiko ketika menghadapi dilema etika.



"Penelitian kami telah menunjukkan bahwa individu cenderung menyelesaikan ketegangan melalui rasionalisasi: berperilaku tidak jujur ​​untuk mendapat keuntungan dari perilaku tidak etisnya tetapi cukup jujur ​​untuk mempertahankan konsep diri positif sebagai manusia yang jujur," kata Profesor Dan Ariely dari Duke University yang ikut membantu penelitian.



Seperti yang ditunjukkan kedua percobaan di atas, ketidakjujuran yang dilakukan oleh orang-orang kreatif seringkali terlihat samar. Jika tidak bisa benar-benar tahu sisi mana yang memiliki titik lebih banyak, memilih sisi kanan tidak terang-terangan berbuat curang, bukan? 
 
Putro Agus Harnowo - detikcom
20.28 | 0 komentar | Read More

Seni Body Painting Siswa SMKN I Buduran Yang Mengundang Laknat

Aneka kreasi dan keahlian para siswa sekolah di Sidoarjo, ditunjukkan Education Expo (SIEDEX) 2011 di Convention Hall Mal Sun City Sidoarjo, Rabu (30/11/2011).



Ada yang memajang aneka piala atas prestasi siswa, keunggulan sekolah, dan lain sebagainya. Ada pula dalam dalam edukasi memajang karya manusia pohon sebagai aplikasi pelajaran body painting. Seperti yang ditunjukkan siswa SMKN 1 Buduran.



Stand SMK I Buduran ini juga mengundang perhatian para pengunjung. Manusia pohon ini hasil karya dua siswa SMKN 1 Buduran jurusan Tata Kecantikan Rambut, salah satunya Malihatul Masruah.

"Sengaja warna mencolok kami padukan dalam menggambar agar serasi dan indah dipandang," ucap siswa kelas X jurusan Tata Kecantikan Rambut itu.



Diakuinya, dalam mendandani Fany Cindy teman sekelasnya yang pamerkan jadi model manusia pohon itu, butuh waktu tiga jam.



Tubuh dibentuk aneka macam bagian dari pohon. Rambut Fany didandani ala akar pohon. Tubuhnya pun dipenuhi gambar daun dan ranting pohon. Sedangkan kakinya disulap bak batang pohon.



Entahlah kalau mau di bilang hal ini yang namanya kreativitas, namun sayang sekali jika kreativitas yang dilakukan oleh para siswa ini menjurus pada hal-hal yang dilarang oleh Allah, yakni mempertontonkan aurat wanita, mungkin mereka berdalih ah...inikan hanya bentuk pohon jadi tidak menonjolkan sisi-sisi keelokan tubuh wanita, tapi perlu juga dicermati bahwa ini adalah langkah awal bagi syetan untuk menjerumsukan manusia, kalau kita tidak berhati-hati, bisa-bisa body painting yang sekarang malah jadi salah satu bidang study yang diajarkan di sekolah, yang menurut saya mengarah kepada pornografi akan dikatakan sebagai suatu bentuk seni kreasi manusia yang tidak boleh di batasi.



Ah...kalau semuanya berpendapat seperti ini lalu dimana nilai moral bangsa ini yang akan semakin merosot, padahal sungguh alangkah malunya kita sebagai seorang muslim, padahal mereka yang melakukan praktek ini ternyata juga seorang muslim.



12.03 | 0 komentar | Read More

Menjawab Tudingan Kristen (2): Mengungkap Kontradiksi Angka 40 Ribu plus 18 Tahun dalam Bibel

Written By Ella on Rabu, 30 November 2011 | 13.56

Kasus kesalahan dan kontradiksi angka yang cukup fatal sangat mencolok justru dialami oleh Bibel, terutama dalam kitab Perjanjian Lama. Misalnya tentang kisah kekayaan Raja Sulaiman (Salomo) dalam kitab 1 Raja-raja 4:26 sebagai berikut:
 
“Dan lagi adalah pada radja Solaiman empatpuluh ribu kandang akan segala rata baginda dan duabelas ribu orang berkuda” (Alkitab terbitan Lembaga Alkitab tahun 1960).


“Lagipula Salomo mempunyai kuda empat ribu kandang untuk kereta-keretanya dan dua belas ribu orang berkuda” (Alkitab terbitan Lembaga Alkitab tahun 1979).


Perhatikan baik-baik, dalam ayat yang sama yang diterbitkan berbeda tahun, terjadi korupsi angka 90 persen dari angka 40.000 menjadi 4.000.


Pemangkasan angka dari 40.000 menjadi 4.000 dalam kitab Raja-raja itu jelas bukan sekedar memperbaiki redaksi bahasa, melainkan merombak esensi ayat secara signifikan. Karena bagaimanapun juga, penambahan satu angka nol (0) sangat besar artinya. Merubah 40.000 menjadi 4.000 itu berarti membuang nilai 36.000. Satu angka yang cukup fantastis, terlebih bila tertera dalam kitab suci firman Tuhan.


Kekeliruan satu angka nol (0) dalam dunia bisnis saja sangat fatal akibatnya, terlebih jika menimpa kitab suci. Betapa aneh jika dalam ayat yang sama dengan cerita yang sama pula, selisih 19 tahun penerbitan angka 40.000 berkurang satu angka nol menjadi 4.000.


Bila diteliti lebih lanjut, ternyata revisi angka itu sangat manjur untuk membuang kontradiksi ayat. Sebab jika Alkitab tahun 1960 itu tidak direvisi, maka terjadilah kontradiksi ayat mengenai kekayaan Raja Salomo dengan versi kitab Tawarikh yang menyebutkan bahwa Salomo hanya memiliki 4.000 kandang kuda. Perhatikan ayat berikut:


“Salomo mempunyai juga empat ribu kandang untuk kuda-kudanya dan kereta-keretanya dan dua belas ribu orang berkuda, yang ditempatkan dalam kota-kota kereta dan dekat raja di Yerusalem” (2 Tawarikh 9:25).


“And Solomon had four thousand stalls for horses and chariots, and twelve thousand horsemen; whom he bestowed in the chariot cities, and with the king at Jerusalem” (2 Chronicles 9:25, King James Version).


Supaya tidak kontradiktif, maka dibuanglah satu angka nol dalam kitab Raja-raja. Tapi tanpa disadari, hal ini justru mengakibatkan kontradiksi yang lebih nyata antara ayat yang sama terhadap cetakan tahun yang berbeda.


Kontradiksi dan revisi ayat Bibel yang tak kalah fatalnya adalah mengenai angka tahun, dalam ayat berikut:


“Adapon oemoer Jehojachin pada masa ija naik radja itoe doelapan tahoen, maka karadjanlah ija diJeroezalim tiga boelan dan sapoeloeh hari lamanja, maka dipêrboewatnja barang jang djahat kepada pêmandangan Toehan” (2 Tawarikh 36:9, Alkitab tahun 1928).


“Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan sepuluh hari lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. (2 Tawarikh 36:9, Alkitab tahun 2002).


Ayat yang sama dalam dua versi tersebut jelas bertentangan dan tidak mungkin keduanya diyakini sebagai kebenaran. Pasti ada salah satu yang salah, bahkan bisa jadi keduanya salah.


Penambahan angka satu (1) pada angka 8 tersebut bukan tak ada artinya. Sebab bila angka dalam ayat itu tidak direvisi, maka terjadilah kontradiktif dengan kitab Raja-raja. Sebab dalam kitab II Raja-raja 24:8 disebutkan bahwa Yoyakhin berusia 18 tahun ketika jadi raja Yerusalem.


“Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem” (II Raja-raja 24: 8, Alkitab tahun 2002).


Jika kontradiksi antara kitab Tawarikh dengan kitab Raja-raja itu dibiarkan, maka Alkitab (Bibel) tidak laku di pasaran dan “ketinggalan kereta” dengan kitab-kitab suci agama lainnya.


Mendengar jawaban itu, Kristen tahun 1928 bisa menerima dan memahami. Tapi mereka masih belum puas, karena masih ada pertanyaan yang belum terjawab, kenapa nama “Yehoyakim” diganti “Yoyakim” dan nama “Yehoyakhin” diganti “Yoyakhin”? Sebab penambahan huruf dalam nama seseorang itu bisa merubah makna yang sangat jauh.


Dengan data-data ini, jelaslah bahwa ada ayat kontradiktif dalam Bibel. Adanya revisi ayat untuk menghilangkan kontradiktif, justru semakin membuktikan bahwa dalam Bibel ada campur tangan manusia. 


A Ahmad Hizbullah MAG/suara-islam.com

Publikasi: voa-islam.com
13.56 | 0 komentar | Read More
 
berita unik