Beberapa waktu yang lalu sempat tersiar kabar bahwa gaji PNS akan dinaikkan lagi, entah sudah berapa kali ya..selama masa Pemerintahan kita yang sekarang, dilakukan kebijakan kenaikan gaji PNS plus gaji ke-13, aku sih cuma bisa geleng-geleng kepala, Gaji PNS beberapa kali naik sementara gaji karyawan swasta apalagi buruh susah naiknya.
Nah....sekarang saya mau mendongeng, eh..bukan dongeng sih...., tapi cerita sejarah (kalau dongeng ntar malah ketiduran ..), ceritanya begini :
Itu baru gaji PNS, belum lagi gaji presiden dan anggota DPR, menurut info yang saya dapat gaji presiden mencapai 62 juta per bulan, jadi sehari kira-kira 20 juta, kalau untuk kebutuhan keluarga normal, gaji segini sudah lebih-lebihlah.
Ada beberapa alasan yang mendasari kenaikan gaji tersebut, diantaranya untuk meningkatkan kinerja, untuk mencegah korupsi dan masih banyak lagi dali-dalih yang nggak rasional. Dan kalau ada yang protes soal kenaikan gaji, biasanya jawaban klisenya karena sudah dianggarkan pada RAPBN tahun sebelumnya. (memangnya kalau sudah dianggarkan, nggak bisa diubah ya.., toh yang bikin anggaran kan manusia bukan Tuhan, hiiii...)Nah....sekarang saya mau mendongeng, eh..bukan dongeng sih...., tapi cerita sejarah (kalau dongeng ntar malah ketiduran ..), ceritanya begini :
Alkisah pada suatu hari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz disediakan makanan oleh Istrinya yang beda dari biasanya. Saat itu tersedia sepotong roti yang masih hangat, harum dan wangi, tampak roti itu begitu lezatnya hingga membangkitkan selera.
Sang Khalifah merasa heran dan bertanya pada Istrinya: “ Wahai Istriku dari mana kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini ? “.
Istrinya menjawab “Ooh itu buatanku sendiri wahai Amirul Mukminin, aku sengaja membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk dengan urusan negara dan umat“.
Lalu Sang Khalifah bertanya lagi :“ Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini “.
Sang istri mejawab :“ Hanya 3,5 dirham saja, kenapa memangnya?"
Sang Khalifah berkata :“ Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku ini, agar aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti “ , lalu kemudian khalifah bertanya lagi : "terus uang yang 3,5 dirham itu kau dapatkan dari mana ? “.
Lalu Istrinya menjawab :“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku , jadi dalam seminggu terkumpulah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti seperti ini yang halalan toyyiban"
Lalu Khalifah berkata :“ Baiklah kalau begitu. Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih, dan itu berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yg membuat kita mampu memakan roti yang lezat di atas tanggungan umat “.
Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitul Maal (Kas Negara) dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan Khalifah berkata kepada istrinya “ saya akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi “.
Dari cerita diatas kita dapat mengambil teladan bagaimana sang khalifah atau sang presiden kalau zaman sekarang, begitu berhati-hati untuk tidak memakan melebihi dari apa yang menjadi kebutuhan pokok keluarganya sehingga beliau tidak mau membebani rakyatnya dengan gajinya yang 3,5 dirham dan mengurangi 1/2 dirham dari gajinya, yang telah melebihi kebutuhan keluarganya. (kalau cukup 3 dirham sehari, mengapa harus 3,5 dirham)
Yah...Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, sosok pemimpin ideal yang dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan, telah berhasil membawa negerinya, menjadi negeri yang makmur, sehingga Baitul Mal (Kas Negara) menjadi penuh dengan harta zakat karena tiada lagi rakyatnya yang mau menerima zakat . Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita sekarang ????
Yah...Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, sosok pemimpin ideal yang dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan, telah berhasil membawa negerinya, menjadi negeri yang makmur, sehingga Baitul Mal (Kas Negara) menjadi penuh dengan harta zakat karena tiada lagi rakyatnya yang mau menerima zakat . Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita sekarang ????
21.30 | 9
komentar | Read More