Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Apakah Sang Pendosa Bisa Masuk Surga ?

Written By Ella on Sabtu, 26 November 2011 | 15.22







Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Aku pernah mendengar
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Ada dua orang
laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu
rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah
selalu berkata kepada saudaranya, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” Suatu
hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, ‘Hentikan
perbuatan dosamu!” (Lelaki yang berbuat dosa berkata), “Biarkan antara
aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?”. Ia (Lelaki yang
rajin beribadah) berkata lagi, “Demi Allah, Allah tidak akan
mengampunimu!” atau “Dia tidak akan memasukanmu ke surga!”



Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh
keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang
berdosa itu,“Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.”




Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah,“Apakah kamu
mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?” Dia menjawab, “Tidak,
wahai Tuhanku.” Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para
malaikat): “Bawalah dia masuk ke dalam neraka.” Abu Hurairah– semoga
Allah meridhainya – berkomentar, “Demi Dzat yang jiwaku ada di
tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan
dunia dan akhiratnya.”(HR Abu Dawud).







Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “…Sekiranya tidaklah karena
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan yang keji dan
mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan apa yang
dikehendaki-Nya…” (QS. An Nur : 21).







“…dan mereka berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki
kami kepada (jannah) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat
petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (QS. Al A’raaf :
43).







Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada satu
jiwapun dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya, baik di surga
atau di neraka.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita
beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja?” Beliau menjawab, “Tidak, tapi
beramallah! Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang telah
ditakdirkan untuknya.” (HR: Bukhari, (VII/212) dan Muslim, (VIII/47, no.
2647).







Hadits ini adalah sebagai dalil  dari apa yang telah disebutkan tadi.
Ia menunjukkan bahwa manusia itu diberi pilihan , yaitu berdasarkan
sabdanya: “Beramallah!” Serta menunjukkan bahwa dalam pilihannya
tersebut ia tidak keluar dari ketentuan Allah, berdasarkan sabdanya:
“Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang ditakdirkan
untuknya.” (Lihat kitab Al Iman bil Qadha’ wal Qadar, oleh Muhammad bin
Ibrahim al Hamd).







Mereka (Ahlu Sunah wal Jama’ah) meyakini bahwa Surga tidak wajib
untuk seseorang meskipun amalnya baik, kecuali jika Allah meliputinya
dengan karunia-Nya lalu ia memasukinya dengan rahmat-Nya. (Lihat Surat
An Nur : 21 diatas). Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak
ada seorangpun yang dimasukkan ke dalam surga oleh amalnya.” Ditanyakan,
“Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga
aku, kecuali Rabb-ku meliputiku dengan rahmat-Nya.” (HR: Muslim no. 2816
(72), Shahih al Bukhari no. 5673 dan takhrij Syaikh al Albani dalam ash
Shahiihah no. 2602).







Ahlu Sunah tidak memastikan adzab bagi setiap orang yang memperoleh
ancaman –selain perkara yang menyebabkan kufur-. Karena mungkin Allah
akan mengampuninya dengan sebab ketaatan-ketaatan yang dilakukannya,
dengan taubat atau musibah-musibah dan penyakit-penyakit yang bisa
menghapuskan dosa-dosa. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ‘Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).






15.22 | 0 komentar | Read More

Hamba-Hamba Dewa Maya

Written By Ella on Kamis, 17 November 2011 | 10.59


Tak terasa malam semakin larut, jarum sang waktu telah merambat ke angka terbesarnya, denting lonceng sang waktu tak dihiraukannya. Dia masih saja terpaku di depan layar kotak 14 inch-nya, jari-jarinya nampak sibuk menekan tuts-tuts berabjad, sesekali dia gerakkan si tikus kecil berkabel di sampingnya, hmmh….3 jam berlalu serasa hanya beberapa menit saja baginya. Ah…apakah ada yang salah dari  dia, nampak lebih banyak waktu dia habiskan dalam kesendirian dan senyum tawanya disana, ada yang berubah dari dia, lelah nampak menggelayuti wajahnya, namun dia masih saja tak beranjak dari tempat duduknya. 










Apakah kini dia telah menjadi hamba-hamba..layar kaca, hamba-hamba dunia maya, sesekali dia nampak mendesah, ada sedikit rasa sesak yang nampak dari kilatan wajahnya. 







Sungguh bukan ini yang saya tahu dari apa yang dia mau, dia pernah berkata hanya ingin menyerahkan hidupnya pada sang Penciptanya, dia hanya ingin lebih banyak waktunya, di keheningan malamnya dalam kontemplasinya dengan Rabb-Nya, namun bisikan-bisikan syetan jiwanya serta daya tarik sang  dunia maya lebih membuat dia terpaku di depannya, memberatkan langkah  kakinya menuju altar dan bersujud di sajadah cinta sang khalik-nya.






10.59 | 0 komentar | Read More

PUISI TERAKHIR WS.RENDRA YANG DITULISNYA DIRANJANG RUMAH SAKIT

Written By Ella on Sabtu, 06 Agustus 2011 | 14.25

Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya



Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas, dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,

Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”.

Semoga Almarhum di terima disis Allah, dan di ampuni kesalahan2nya. Aamiin.  *Pembelajaran*
14.25 | 0 komentar | Read More

Hanya Ada Sebutir Batu Untuk Ali

Written By Ella on Minggu, 24 Juli 2011 | 15.41

Pagi baru saja merayap, gelap masih mencengkram lemah, sementara subuh sudah terlewati hampir setengah jam yang lalu, dan rona fajar masih enggan menampakan wajahnya. Dua orang bocah tampak terburu-buru melarikan diri dari sajadah tempat ia bersujud, berlari menuju pantai yang saat itu sangat tenang.
Tiba dipesisir pantai, sang kakak mencari tempat yang tinggi agar bisa melihat perahu besar yang katanya akan membawa sekaleng susu untuk dirinya dan adik-adiknya. Seorang bocah, Husien, berumur 5 tahun tampak antusias berdialog dengan adiknya yang berusia 3 tahun, bernama Ali. Sang adik menanyakan kapan segelas susu penuh buatnya akan tiba.


"Adikku sayang, sabar ya sebentar lagi kita akan meminum susu sampai puas, tidak seperti hari-hari yg lalu, dimana kita jarang sekali minum susu, meski hanya setengah gelas, sebab kita harus berbagi dengan adik bayi kita".


"Iya kak, aku senang sekali, kata ibu, kita akan mendapat bantuan susu dari saudara kita dari tempat yang jauh di seberang dunia sana.”,


“makanya dik, ibu menyuruh kita kemari untuk mengantri, kasihan ibu di rumah sendiri bersama adik bayi.


“Sejak ayah pergi dan tak pernah kembali, hanya ibu yang memberi makanan kepada kita, dan bantuan para tetangga yang baik hati, untuk itu mari kita doakan dik, agar mereka cepat sampai disini.”
“Baik kak”.


Keduanya lantas merebahkan diri di pasir, menatap langit yang mulai memerah, mengiringi kepergian bintang-bintang seraya mengharap kepada sang pencipta untuk mengabulkan doa mereka.


Angin pantai yang mulai datang perlahan meniup-niup kelopak mata mereka, dan mereka tertidur hingga sengatan matahari membangunkan kedua bocah yang mulai terasa lapar itu. “Kak Husien, bangun...bangun.. nanti kita tidak kebagian susu..” teriak Ali membangunkan kakaknya.” “hmmm..ternyata sudah siang, ayo kita menuju ke kerumunan orang-orang itu.


Dua bocah kecil berlari kencang menuju kerumunan orang yang terlihat lesu tak besemangat. Sang kakak bertanya pada seorang kakek, “Kakek, mana susu buat kita, apakah sudah dibagikan, kami harus buru-buru pulang sebab adik bayi kami pasti kelaparan belum minum susu”


“Iya kek, mana jatah untuk kami” kata Ali. “Sabar ya nak, perahu susumu di rampok oleh tentara jahat itu, jadi kembalilah kepada ibumu..” Sang adik tertegun...”jadi kita tidak dapat susu ya kak...”
”Iya dik”


Kedua bocah pun berlari kembali kerumahnya, sesampai dirumah, sang ibu menanyakan kabar kepada kedua anaknya yang masih balita itu, usia mereka memang balita, tetapi, fikiran dan tingkah laku mereka terlihat lebih dewasa dari usia seharusnya, keadaan yg memaksa akibat isolasi tentara zionis membuat mereka hidup lebih tegar, tidak ada tampang cengeng dan merajuk seperti anak-anak balita didunia luar sana.


“bagaimana nak, dapat susunya?” tanya ibunya dengan tatapan haru. “Tidak bunda, kata kakek tadi, kapal pembawa susu itu dirampok tentara zionis” jadi kita tidak dapat susu, jangan menangis ya bunda, sebab aku dan adik masih bisa kok memerah susu kambing untuk adik bayi, jadi bunda tidak usah khawatir ya..” ,


“Tidak, nak, gumam sang ibu dalam hati, bukan bunda yang harusnya jangan menangis, tetapi kamu dan adikmulah yang seharusnya menangis, karena jatah susumu hilang diambil orang, Ibu bangga kepada mu nak, kamu tidak bersedih, malah mengayomi ibu untuk tidak bersedih.


Sambil mengusap air mata, agar tak terlihat cengeng dimata kedua anaknya sang ibu berkata. ”Tidak mengapa nak, mungkin belum rezeki kita, memang tidak seharusnya kita meminta-minta kepada manusia, sebab Allahlah yang selama ini menjaga kita. Toh meski dalam kondisi yang sulit saat ini dan ayahmu telah syahid meninggalkan kita, kita masih tetap bisa hidup. Kita berdoa saja agar Allah tetap menjaga kita dan bangsa ini. Juga kita berdoa kepada Allah agar saudara-saudara kita dinegeri lain sana tetap tabah dan kuat untuk kembali mengirimkan susu untuk kamu dan adikmu".
”Iya bu”. kata kedua anaknya serempak


Ini sebuah batu untuk mu, dan satu batu lagi untuk adikmu, Ali, ganjallah perutmu dengan batu itu, sampai ibu bisa bertemu dengan orang yang baik hati, doakan ibu ya nak...”


Nun jauh disana di negeri merdeka bernama INDONESIA, banyak para keluarga bersama anak-anaknya berkumpul disebuah restoran terkenal dari AS, restoran yg dimiliki penyandang dana bagi tentara yang telah merompak susu milik Ali. Secara perlahan, suap-demi suap dari fastfood yg mereka makan, menjelma menjadi batu-demi batu yang menjadi pengganjal perut Ali, perut kakaknya Husien dan perut adik bayinya......Ya Robb
15.41 | 0 komentar | Read More

Keajaiban Lima Ribu Lima Ratus Lima Puluh Rupiah

Entah dari mana inspirasi cerita ini dibuat, yang jelas sesuatu yang kita yakini didunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Amel baru berumur sembilan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Heri. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa Heri.



Hanya operasi dan butuh biaya yang sangat mahal yang bisa menyelamatkan jiwa Heri tapi apalah daya kedua orang tua Amel tidak punya biaya untuk itu adiknya itu. Amel mendengar ayahnya berbisik kepada Ibunya, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."


Dengan tergesa-gesa Amel pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah celengan dari tempat persembunyiannya dalam sebuah lemari. Lalu dipecahkan dan dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan bergegas menghitungnya dengan cermat. Diulangnya hitungan itu hingga lima kali. Nilainya harus benar-benar tepat.


Dengan membawa uang tersebut, Amel secara diam-diam menyelinap keluar rumah dan langsung naik bus angkot pergi ke toko obat di sudut jalan. Setibanya di toko obat tersebut, ia melihat seorang apoteker paruh baya berambut sedikit memutih sedang menelepon.


Amel menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian tapi sang apoteker terlalu sibuk dengan telepon tersebut untuk diganggu oleh seorang anak kecil yang berusia sembilan tahun. Amel berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. klontang !


"Apa yang kamu lakukan heh ?" tanya apoteker tersebut dengan suara marah. "Saya ini sedang berbicara dengan saudara saya."


"Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya," Amel menjawab dengan nada yang sama. "Dia sakit...dan saya ingin membeli keajaiban."


"Apa katamu ?," tanya sang apoteker.
"Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang... jadi berapa harga keajaiban itu ?"


"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu." ucap apoteker.
"Dengar, saya mempunyai uang untuk membeli keajaiban itu. Katakan saja berapa harganya." Kata Amel lalu tiba-tiba keluar seorang pria berpakaian rapi dari balik ruang, berhenti dan bertanya, "Keajaiban macam apa yang dibutuhkan oleh adikmu nak?"


"Saya tidak tahu," jawab Amel. Air mata mulai menetes dipipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah......... dan Ibu saya mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya karena biayanya sangat mahal tapi saya mempunyai uang."


"Berapa uang yang kamu punya ?" tanya pria itu lagi.
"Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah," jawab Amel dengan bangga. "dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini."


"Wah, kebetulan sekali," kata pria itu sambil tersenyum. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah ini harga yang tepat dan cocok untuk membeli sebuah keajaiban yang dapat menolong adikmu". Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Amel sambil berkata : "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya, juga orang tuamu."


Ternyata pria apoteker itu adalah seorang ahli bedah terkenal. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Heri dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat seperti sediakala.


Kedua orang tuanya sangat takjub mendapatkan keajaiban tersebut. "Operasi itu..." bisik ibunya..... "adalah keajaiban. Tak terbayangkan berapa harganya".


Amel hanya tersenyum. Dan hanya dia yang tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut... Ya... Lima Ribu dan Lima Ratus Lima Puluh Rupiah... ditambah dengan "Keyakinan" .
15.39 | 0 komentar | Read More

Jika Bernafas Harus Membayar, Berapa Uang Yang Harus Dikeluarkan ?

Written By Ella on Kamis, 04 November 2010 | 14.48

Seorang asisten dosen di FMIPA-IPB, Syaefuddin mengatakan bahwa sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Jika perorang manusia bernafas 20 kali permenit, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara. Berapa nilai tersebut bila dirupiahkan?
Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas, semisal oksigen dan nitrogen. Masing-masing, 20% dan 79%, mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Jika perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan 100 ml oksigen dan 395 ml sisanya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.



Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 perliter dan biaya nitrogen perliternya Rp 9.950, maka setiap harinya manusia menghirup udara sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, jika manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup, berarti setiap bulannya ia harus menyediakan uang sebesar Rp 5,3 miliar. Dan dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana Rp 63,6 miliar hanya untuk bernafas.


Sungguh, Allah Maha Pemurah. Udara yang melimpah-ruah di alam adalah bukti kasih sayang-Nya yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma alias gratis! Tak sepeser pun kita dipungut oleh Allah SWT untuk membayar nikmat yang luar biasa itu. Lebih dari itu, Dia-lah Tuhan Yang mengurus kita siang-malam tanpa pernah meminta upah secuil pun. Mahabenar Allah Yang berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kalian pada waktu malam dan siang hari selain Zat Yang Maha Pemurah?”(TQS Al-Anbiya’ [21]: 42).


Pertanyaannya: Sudahkah kita bersyukur atas semua itu? Sudah berapa miliar kali hamdalah kita ucapkan untuk-Nya? Sudah berapa lama kita luangkan waktu untuk beribadah dan ber-taqarrub kepada-Nya? Sudah berapa jauh kita menaati segala titah-Nya? Sudah berapa besar pengorbanan kita untuk agama-Nya? Sudah berapa banyak harta milik-Nya yang kita infakkan di jalan-Nya? 


Dikutip dari catatan Ust. Arif B Iskandar
14.48 | 2 komentar | Read More

Mengapa Bencana Beruntun Terjadi di Negeri kita ?

Written By Ella on Senin, 01 November 2010 | 08.20

Di pagi yang lumayan dingin di temani sepiring Mie goreng, habis laper dan nggak ada pilihan makanan (dimakan saja, walaupun katanya kurang baik buat kesehatan).
Hari ini  aku pingin celoteh sedikit tentang banyak bencana yang menimpa negeri kita, mulai dari Wasior, Mentawai, Merapi belum lagi kecelakaan-kecelakan transportasi yang juga cukup dominan terjadi.
Sebenarnya kenapa hal ini terjadi, apakah ini kesalahan manusia sehingga Allah mengazab bangsa ini dengan banyaknya bencana yang terjadi atau mungkin ini bentuk ujian bagi kita agar kita bisa mengambil hikmah di dalamnya, atau mungkin kita dengan mudah mengatakan :"ah...ini sudah takdir, seakan-akan kita menyalahkan "takdir" menyalahkan "alam" bahkan "menyalahkan Sang Pembuat Takdir.



Kalau kita runut ke belakang memang sejak Pemerintahan SBY, banyak sekali bencana yang terjadi, mulai dari bencana terbesar dan mengguncangkan dunia, tsunami Aceh yang terjadi tepat di masa awal Pemerintahan Presiden yang sekarang. Dan kemudian diikuti oleh banyaknya bencana-bencana lain yang terjadi. Aku jadi berfikir dan sempat bertanya-tanya dalam hati :"Apa mungkin ya...Presiden kita yang sekarang kurang laku tirakatnya (istilah Jawanya untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik), sehingga bencana seringkali menghinggapi di masa pemerintahannya. ( ah..ini hanya pemikiranku semata loh..)



Tidak seperti Presiden yang sebelumnya yakni Presiden Soekarno dan Soeharto yang memang dikenal cukup kuat laku tirakatnya. Wah...kok jadi ngomongin presiden ya..?


Kembali ke soal bencana, kalau dalam pandangan saya ada 2 hal yang bisa kita ambil kesimpulan :
Yang pertama soal bencana seperti tsunami, gempa, letusan gunung, atau mungkin angin puting beliung yang memang sulit diprediski terjadinya, untuk hal ini yang bisa dilakukan hanya meminimalisir efek kerusakan yang diakibatkannya, misalnya dengan membangun rumah tahan gempa mengingat negara kita meruapakan daerah rawan gempa, memasang sirene tanda bahaya kalau gempa dan  tsunami terjadi, serta sirene tanda Gunung berapi yang akan meletus.



Lalu bagaimana dengan kecelakaan semacam jatuhnya pesawat atau tergelincirnya kereta dari relnya ? maka disini bisa dijelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini terikat dalam hukum sebab-akibat yang semuanya sudah diatur oleh Allah. Kehendak Allah bisa juga diartikan dengan Sunnatullah. Misalnya Api pada oleh air atau kulit keriput ketika tua, itu adalah sebuah aturan, Allah sudah menentukan segalanya sesuai dengan ukuran. Kapal tenggelam, jatuhnya pesawat, tergeleincirnya kereta  pasti ada sebabnya, dari itulah manusia diberikan Allah akal fikiran untuk belajar memperbaiki kesalahan-kesalahannya.


Dan sebagai manusia seharusnya kita bisa mempelajari sunnatullah  di bumi sehingga kita bisa memperbaiki diri agar tidak terulang lagi bencana bencana yang masih bisa kita hindari. Contohnya seperti tanah longsor yang diakibatkan oleh maraknya illegal loging, atau banjir yang melanda kota Jakarta.



Seharusnya pengalaman yang ada menjadikan pembelajaran untuk bertindak lebih baik lagi, bukannya psrah dan menyalahkan alam akan semua ini.

Seperti yang telah di sebutkan dalam Al-qur'an surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya :



"Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbautan tangan manusia supaya Allah meraskan kepada mereka sebahagian dari akibat perbautan  mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar"
08.20 | 1 komentar | Read More

Gaji Presiden Vs Gaji Khalifah

Written By Ella on Sabtu, 23 Oktober 2010 | 21.30

Beberapa waktu yang lalu sempat tersiar kabar bahwa gaji PNS akan dinaikkan lagi, entah sudah berapa kali ya..selama masa Pemerintahan kita yang sekarang, dilakukan kebijakan kenaikan gaji PNS plus gaji ke-13, aku sih cuma bisa geleng-geleng kepala, Gaji PNS beberapa kali naik sementara gaji karyawan swasta apalagi buruh susah naiknya.



Itu baru gaji PNS, belum lagi gaji presiden dan anggota DPR, menurut info yang saya dapat gaji presiden mencapai 62 juta per bulan, jadi sehari kira-kira 20 juta, kalau untuk kebutuhan keluarga normal, gaji segini sudah lebih-lebihlah.
Ada beberapa alasan yang mendasari kenaikan gaji tersebut, diantaranya untuk meningkatkan kinerja, untuk mencegah korupsi dan masih banyak lagi dali-dalih yang nggak rasional. Dan kalau ada yang protes soal kenaikan gaji, biasanya jawaban klisenya karena sudah dianggarkan pada RAPBN tahun sebelumnya. (memangnya kalau sudah dianggarkan, nggak bisa diubah ya.., toh yang bikin anggaran kan manusia bukan Tuhan,  hiiii...)



Nah....sekarang saya mau mendongeng, eh..bukan dongeng sih...., tapi cerita sejarah (kalau dongeng ntar malah ketiduran ..), ceritanya begini :



Alkisah pada suatu hari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz disediakan makanan oleh Istrinya yang beda dari biasanya. Saat itu tersedia sepotong roti yang masih hangat, harum dan wangi, tampak roti itu begitu lezatnya hingga membangkitkan selera.
Sang Khalifah merasa heran dan bertanya pada Istrinya: “ Wahai Istriku dari mana kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini ? “.
Istrinya menjawab “Ooh itu buatanku sendiri wahai Amirul Mukminin, aku sengaja membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk dengan urusan negara dan umat“.
Lalu Sang Khalifah bertanya lagi :“ Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini “.
Sang istri mejawab :“ Hanya 3,5  dirham saja, kenapa memangnya?"
Sang Khalifah berkata :“ Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku ini, agar aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti “ , lalu kemudian khalifah bertanya lagi : "terus uang yang 3,5 dirham itu kau dapatkan dari mana ? “.


Lalu Istrinya menjawab :“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku , jadi dalam seminggu terkumpulah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti seperti ini yang halalan toyyiban"


Lalu Khalifah berkata :“ Baiklah kalau begitu. Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih, dan itu berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yg membuat kita mampu memakan roti yang lezat di atas tanggungan umat “.


Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitul Maal (Kas Negara) dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan Khalifah berkata kepada istrinya “ saya akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi “. 


Dari cerita diatas kita dapat mengambil teladan bagaimana sang khalifah atau sang presiden kalau zaman sekarang, begitu berhati-hati untuk tidak memakan melebihi dari apa yang menjadi kebutuhan pokok keluarganya sehingga beliau tidak mau membebani rakyatnya dengan gajinya yang 3,5 dirham dan mengurangi 1/2 dirham dari gajinya, yang telah melebihi kebutuhan keluarganya. (kalau cukup 3 dirham sehari, mengapa harus 3,5 dirham)



Yah...Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, sosok pemimpin ideal yang dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan, telah berhasil membawa negerinya, menjadi negeri yang makmur, sehingga Baitul Mal (Kas Negara) menjadi penuh  dengan harta zakat karena tiada lagi  rakyatnya yang mau menerima zakat . Lalu bagaimana dengan para pemimpin kita sekarang ????

21.30 | 9 komentar | Read More

Siapakah Orang Yang Bangkrut Itu ?

Written By Ella on Selasa, 12 Oktober 2010 | 09.03

Kalau kita bicara soal bangkrut atau pailit, tentu kita mikirnya pasti orang yang hartanya habis atau orang kaya tiba-tiba jatuh miskin serta terlilit hutang. Memang bener sih, hal yang seperti kriteria diatas bisa dikatakan termasuk orang-orang yang bangkrut. Tapi secara hakikat yang sebenarnya dalam ajaran islam orang-orang yang bangkrut adalah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis :




Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak mermliki harta benda". Kemudlan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zhalimi) ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka." (Riwayat Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)


Dari hadist diatas orang yang bangkrut atau pailit adalah mereka yang kelak di akhirat membawa pahala kebajikan namun ketika di dunia mereka juga suka berbuat dholim sehingga kelak diakhirat amal-amal kebajikannya akan dikurangkan untuk mengganti semua berbuatan dholim yang pernah dia lakukannya pada orang lain sehingga semua amalannya habis, dan jika semua amalannya sudah habis namun masih belum bisa menutupi  semua perbuatan dholim yang pernah dia lakukan maka dosa-dosa orang yang pernah dia dholimi akan dibebankan kepadanya sehingga dia di siksa di dalam neraka. (Naudhubillahimindhalik).
Semoga kita semua bukan termasuk orang-orang yang bangkrut amal kelak di akhirat nanti.




09.03 | 3 komentar | Read More
 
berita unik