Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Istana Sang Pemimpin

Written By Ella on Selasa, 09 November 2010 | 21.08

Suatu hari di masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab salah satu dari Khulafaurrasyidin yang merupakan sahabat terdekat Rasulullah, datanglah seorang Yahudi dari Negeri Mesir yang akan menemui Khalifah Umar Bin Khattab di Madinah.
Si Yahudi tersebut belum pernah bertemu dengan Khalifah Umar Bin Khattab sebelumnya. Dan di tengah perjalanan si yahudi tersebut bertanya pada seseorang yang dia temui dijalan, dia bertanya : "Dimanakah istana Khalifah negeri ini ?",

lalu orang yang ditanya menjawab :"Selepas dhuzur nanti tuan bisa menemui Khalifah Umar  di tempat perisitirahatannya di dekat masjid di dekat pohon kurma."


Lalu si yahudi tersebut membayangkan, alangkah indahnya istana khalifah, dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh merintang-rintang waktu. Maka tatkala dia di depan masjid, si yahudi tersebut kebingungan karena di sana tidak ada satupun bangunan megah yang mirip istana. Memang di sana ada pohon kurma tapi cuma sebatang. Dan dibawahnya tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan jubahnya yang hampir luntur warnanya tengah beristirahat. Si Yahudi tersebut lalu mendatanginya dan berkata ;"Maaf, saya mau bertemu dengan Umar Bin Khattab.



Sambil bangkit Umar menjawab, "Akulah Umar Bin Khattab". Si yahudi itupun terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini."


Umar pun menjelaskan, "Ya...akulah Umar, pemimpin negeri ini."


Si Yahudi itu pun makin terlongong. Mulutnya terkatup rapat, tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia membandingkannya dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba gemerlapan, dan para raja Israel yang istananya gebyar-gebyar.
Sungguh tidak masuk akal, ada seorang pemimpin negeri yang begitu luas kekuasaannya, tempat istirahatnya hanya di atas selembar tikar, di bawah pohon kurma di tengah langit yang terbuka.


"Dimanakah istana Tuan?" tanya si Yahudi.
Umar menuding, "Di sudut jalan itu,  kalau yang kau maksud adalah kediamanku."
"Maksud Tuan, yang kecil dan kusam itu ?" si Yahudi tambah keheranan.
"Ya, namun itu bukan istanaku, sebab istanaku berada di dalam hati, yang tentram dengan ibadah kepada Allah," sahut Umar sembari tersenyum.


Yahudi itu pun kini tunduk. Kedatangannya yang berniat melampiaskan kemarahan dan tuntutan-tuntutannya, berubah menjadi kepasrahan dengan segenap jiwa-raga, sambil matanya berkaca-kaca ia berkata, "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya mulai meyakini kebenaran agama Tuan. Izinkanlah saya menjadi pemeluk agama Islam."


Pantas apabila sebuah wejangan mulia mengatakan :
"Nasehat dengan perbuatan jauh lebih berhasil dibandingkan dengan perkataan."






21.08 | 2 komentar | Read More

Rahasia Kehidupan

Written By Ella on Minggu, 07 November 2010 | 12.41

Seorang anak bertanya kepada ibunya : “Mak, mengapa kita miskin ?”
Ibu anak itu berkata : "Hidup ini seperti jalan-jalan di dalam Supermarket, nak...,
Siapa yang membawa tiga coklat, ia akan membayar 3 coklat. Siapa yang hanya dapat satu coklat, ia membayar satu coklat, kita orang miskin tidak kebagian coklat itu nak. Sebab itu di pintu kasir kita tidak diperiksa."

"Orang miskin nanti, akan cepat pemeriksaannya di hari kiamat Sedangkan orang kaya, akan lambat pemeriksaannya", lanjut Mak nya.
“Iya mak” kata anak itu, “Aku percaya”.

“Tetapi kalau kita miskin, aku kan tidak bisa sekolah sampai perguruan tinggi.”
Berlinang air mata ibu itu mendengar keluh anaknya. Ia palingkan wajahnya dan bertanya di dalam hati: Mengapa ya, kita dilahirkan sebagai orang miskin ?


Lalu Si Ibu berkata : “Itu rahasia Tuhanmu nak...., kamu boleh berusaha dan berdo’a untuk merubahnya.”
“Tetapi ingatlah”.
Dan apabila kami beri nikmat kepada manusia Ia berpaling, ia jauhkan dirinya
Dan apabila kejahatan mengenai dia, adalah ia orang yang sangat putus asa.
(Al-Quran, surat Al-Isra’, ke 17 ayat 83)


Lalu si emak melanjutkan: "dan jika kelak kamu menjadi orang yang sukses, ingatlah akan ayat ini :
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui."

(Al-Quran, surat Az-Zumar, ke 39 ayat 49)


“Jadi apa rahasia kehidupan ini mak... ?” Tanya anak itu kepada ibunya.


Kata ibunya : “Rahasia Kehidupan yang pertama : Kita harus selalu bersyukur. Tidak membuang waktu. Kerjakan pekerjaan lain setelah selesai satu pekerjaan. Tidak ada istilah bersantai dalam hidup ini. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke muka.”


12.41 | 9 komentar | Read More

Mengapa Seorang Muslim Tidak Boleh Meniup Makanan & Minuman

Written By Ella on Jumat, 05 November 2010 | 16.28

Makan dan minum bagi seorang muslim sebagai sarana untuk menjaga kesehatan badannya supaya bisa manegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya dia berusaha agar makan dan minumnya mendapatkan pahala dari Allah. Caranya, dengan senantiasa menjaga kehalalan makanan dan minumanya serta menjaga adab-adab yang dituntunkan Islam.

Makan dan minum seorang muslim tidak sebatas aktifitas memuaskan nafsu, menghilangkan lapar dan dahaga semata. Karenanya, seorang muslim apabila tidak lapar maka dia tidak makan dan apabila tidak haus, dia tidak minum. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari seorang sahabat,



“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.”


Dari sini, maka seorang muslim dalam makan dan minumnya senantiasa memperhatikan adab Islam yang telah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar bernilai ibadah. Dan di antara adabnya adalah tidak bernafas dan meniup minuman. Hal ini didasarkan pada beberapa hadits, di antaranya dari Abu Qatadah, Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah bernafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)


Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Al-Tirmidzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)


Dan juga hadits Abu Sa’id al-Khudri radliyallah ‘anhu, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk meniup di dalam air minum.” (HR. al-Tirmidzi no. 1887 dan beliau menyahihkannya)


Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu.”


Dalam Zaadul Ma’ad IV/325 Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupnya.


Apa Hikmahnya?


Apa hikmahnya, sering menjadi pertanyaan kita sebelum mengamalkannya. Padahal dalam menyikapi tuntunan Islam hanya sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), tanpa harus terlebih dahulu mengetahui hikmahnya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin al-Khathab sesudah mencium hajar Aswad, “Sesungguhnya aku tahu engkau hanya seonggok batu yang tidak bisa menimpakan madharat dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalau seandainya aku tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, pasti aku tidak akan menciummu.” (HR. Al-Bukhari no. 1494 dan Muslim no. 2230)


Namun yang jelas bahwa setiap yang disyariatkan dan dituntunkan oleh Islam pasti mendatangkan kebaikan dan setiap yang dilarangnya pasti mendatangkan madharat. Dan apabila seorang muslim mengetahui hikmah dari sebuah syariat, maka dia akan semakin mantap dalam mengamalkannya. Dan apabila belum mampu menyingkapnya, maka keterangan dari Al-Qur’an dan Sunnah sudah mencukupi.


Di antara hikmah larangan meniup minuman yang masih panas adalah karena nanti struktur molekul dalam air akan berubah menjadi zat asam yang membahayakan kesehatan.


Sebagaimana yang diketahui, air memiliki nama ilmiah H20. ini berarti di dalam air terdapat 2 buah atom hidrogen dan satu buah atom oksigen yang mana 2 atom hidrogen tersebut terikat dalam satu buah atom oksigen. Dan apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2).


Dan apabila karbon dioksida (CO2) bercampur dengan air (H20), akan menjadi senyawa asam karbonat (H2CO3). Zat asam inilah yang berbahaya bila masuk kedalam tubuh kita.


Senyawa H2CO3 adalah senyawa asam yang lemah sehingga efek terhadap tubuh memang kurang berpengaruh tapi ada baiknya kalau kita mengurangi masuknya zat asam kedalam tubuh kita karena dapat membahayakan kesehatan.


Dari sini juga semakin jelas hikmah dari larangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar ketika minum seteguk demi seteguk, jangan langsung satu gelas sambil bernapas di dalam gelas. Hal ini karena ketika kita minum langsung banyak, maka ada kemungkinan kita akan bernapas di dalam gelas, yang akan menyebabkan reaksi kimia seperti di atas.




16.28 | 10 komentar | Read More
 
berita unik