Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Hikmah. Tampilkan semua postingan

KISAH SEORANG ULAMA DENGAN SEORANG PEROKOK DI MALAM RAMADHAN

Written By Ella on Senin, 01 Agustus 2011 | 16.25

Aku pernah diundang di malam Ramadhan dua tahun yang lalu untuk menjadi pembicara dalam satu siaran live di salah satu siaran televisi. Siaran kala itu berkisar tentang ibadah pada bulan Ramadhan. Siaran itu dilakukan di Makkah al Mukarramah pada satu kamar di salah satu hotel yang bisa melongok di atas Masjidil Haram.





Kala itu kami berbicara tentang Ramadhan. Para pemirsa televisi bisa melihat dari sela-sela jendela kamar di belakang kami pemandangan orang-orang yang umrah dan thawaf secara langsung.



Kala itu pemandangannya sungguh mengagumkan dan mengharukan, membuat pembicaraan pun semakin berkesan. Hingga pembawa acara menjadi lembut hatinya, dan menangis di tengah halaqah itu. Sungguh suasana itu adalah suasana keimanan, dan tidak merusak suasana itu kecuali salah satu cameramen. Dia memegang kamera dengan satu tangan, dan tangan yang kedua memegang “Tuhan Sembilan Senti” menurut istilah Penyair Taufik Ismail (tambahan redaksi), yaitu rokok. Seakan-akan tidak ada satu waktu yang tersia-siakan dari malam bulan Ramadhan kecuali dia kenyangkan paru-parunya dengan asap rokok.



Hal ini banyak menggangguku. Penghisap rokok itu benar-benar mencekikku, tetapi harus bersabar, karena itu adalah siaran langsung, dan tidak ada alas an, kecuali terpaksa melaluinya.



Berlalulah satu jam penuh, dan berakhirlah kajian itu dengan salam. Kameramen itu pun mendatangiku –sementara rokok masih ada di tangannya- sembari dia mengucapkan terima kasih dan memuji. Maka kukeraskan genggaman tanganku dan kukatakan, “Anda juga, saya berterima kasih atas keikutsertaan anda dalam menyunting acara keagamaan ini. Saya memiliki satu kalimat, barangkali anda mau menerimanya.”

Dia pun menjawab, “Silahkan…silahkan.”

Kukatakan, “Rokok dan siga…” (maksudnya sigaret),

Namun dia memutus pembicaraanku seraya berkata, “Jangan menasehatiku…Demi Allah, tidak ada faidahnya wahai Syaikh.”

Kukatakan, “Baik, dengarkan saya… Anda tahu bahwa rokok haram, dan Allah berfirman…”

Dia pun memotong pembicaraanku sekali lagi, “Wahai Syaikh, janganlah menyia-nyiakan waktu anda… saya telah merokok selama 40 tahun… rokok telah mengalir dalam urat nadi saya… tidak ada faidah… selain anda lebih pandai lagi…!!”

Kukatakan, “Apa yang ada faidahnya?”

Dia pun merasa tidak enak dariku lalu berkata, “Doakanlah saya… doakanlah saya.”



Maka aku pun memegang tangannya seraya berkata, “Mari bersama saya…”

Kukatakan, “Mari kita melihat kepada Ka’bah.”

Maka kami pun berdiri di sisi jendela yang bisa melongok di atas al Haram. Dan ternyata setiap jengkal dipenuhi dengan manusia. Antara yang ruku’, sujud, yang sedang umrah, dan sedang menangis. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan. Kukatakan, “Apakah anda melihat mereka?”

Dia menjawab, “Ya.”

Kukatakan, “Mereka datang dari setiap tempat, yang putih, yang hitam… orang Arab dan Ajam… yang kaya yang miskin… semuanya berdoa kepada Allah agar menerima ibadah mereka dan mengampuni mereka…”

Dia menjawab, “Benar… benar…”

Kukatakan, “Tidakkah anda menginginkan Allah memberikan kepada anda apa yang Dia berikan kepada mereka?”

Dia menjawab, “Ya… tentu saja.”



Kukatakan, “Angkatlah tangan anda, saya akan berdoa untuk anda… dan aminilah doa saya.”

Aku pun mengangkat kedua tanganku lalu kukatakan, “Ya Allah, ampunilah dia…”

Dia berkata, “Aamiin.”

Aku berdoa, Ya Allah, angkatlah derajatnya, dan kumpulkanlah dia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya di dalam sorga… Ya Allah…”

Dan tidak henti-hentinya aku berdoa hingga hatinya lembut dan menangis… seraya mengulang-ulang, “Aamiin… aamiin…”



Tatkala aku ingin menutup doa kukatakan, “Ya Allah, jika dia meninggalkan rokok, maka kabulkanlah doa ini, jika tidak, maka haramkan dia terkabulnya doa ini.”

Maka pecahlah tangisan laki-laki tersebut, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan keluar dari kamar tersebut.



Berbulan-bulan telah berlalu, aku pun diundang lagi di studio televisi tersebut untuk melakukan siaran langsung. Saat aku masuk ke bangunan tersebut, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampak taat beragama menemuiku, kemudian dia mengucapkan salam dengan hangat, lalu mencium kepalaku, dan merendah meraih kedua tanganku untuk menciumnya, dan sungguh dia sangat terkesan.



Kukatakan kepadanya, “Mudah-mudahan Allah mensyukuri kelembutan dan adab anda… saya sungguh menghargai kecintaan anda… akan tetapi maaf, saya belum mengenal anda…”

Maka dia berkata, “Apakah anda masih ingat dengan cameramen yang telah anda nasihati untuk meninggalkan rokok dua tahun yang lalu?”

Kujawab, “Ya…”

Dia berkata, “Sayalah dia… Demi Allah wahai Syaikh… sesungguhnya aku tidak pernah meletakkan rokok di mulutku sejak saat itu.”

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.



Dikisahkan oleh Syaikh Dr. Muhammad al ‘Arifi.



(Dinukil dari majalah Qiblati edisi 11 tahun V, Ramadhan 1431 H / agustus 2010)
16.25 | 0 komentar | Read More

DEWI PERSIK ALA MESIR

Seorang artis terkenal yang juga penari, Haalah ash-Shaafy menceritakan kisah kenapa ia meninggalkan karirnya di dunia seni dan memilih untuk bertaubat serta bagaimana ketenangan jiwa yang ia rasakan ketika kembali ke rumahnya dan ke kehidupannya. Dengan gaya bahasa yang amat menyentuh, ia menceritakannya dalam sebuah wawancara di salah satu sebuah majalah,





“Suatu hari, seperti biasa aku melakukan adegan menari di salah satu hotel terkenal di Cairo, Mesir. Saat menari, aku merasakan diriku seperti mayat dan boneka yang bergerak tanpa makna. Dan untuk pertama kalinya aku merasa malu ketika menyadari dalam pose setengah telanjang, menari di hadapan mata kaum lelaki dan di tengah-tengah gelas-gelas yang dihampar.



Lalu aku tinggalkan arena tersebut dan cepat-cepat pergi sembari menangis secara histeris menuju kamar gantiku dan mengenakan pakaianku kembali.



Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai menari dari usia 15 tahun lalu. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku mengenakan hijab sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan manasik haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku..”



Di akhir ceritanya yang menggugah hati, Halah berkata, “Haalah ash-Shaafy telah mati dan telah mengubur bersamanya masa lalunya. Ada pun saya sekarang ini adalah bernama Suhair ‘Abidin, Ummu Karim, pengasuh rumah, hidup bersama anak dan suamiku. Tetesan air mata penyesalan senantisa mendampingiku atas hari-hari yang dulu pernah aku lakukan dari usiaku, yang jauh dari Khaliq-ku Yang telah memberikan segala sesuatu kepadaku. Sesungguhnya, aku kini adalah bayi yang baru dilahirkan, aku merasakan ketenangan dan kedamaian setelah sebelumnya hanya perasaan cemas dan sedih yang menjadi temanku sekalipun kekayaan demikian melimpah, selalu bergadang malam dan bersenang-senang….Aku telah melakukan masa-masa yang lalu sebagai teman syetan, yang aku kenal hanya bersenang-senang dan menari. Aku telah hidup dalam kehidupan yang amat dibenci dan terhina. Syarafku selalu tegang tetapi sekarang aku merasa baru menjadi bayi kembali. Aku merasa berada di tangan yang begitu amanat, yang membelai kasih sayang dan mengucapkan selamat padaku…Yah, Tangan Allah SWT.,”



(SUMBER: al-‘Aaidaat Ilallaah, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz al-Musnad, h.15-16, sebagai dinukil dari Majallah al-‘Arabiyyah, Volume 140)



http://gizanherbal.wordpress.com/2011/07/29/dewi-persik-ala-mesir/
16.18 | 0 komentar | Read More

Berdermalah Selagi Engkau Mampu

Written By Ella on Selasa, 19 April 2011 | 13.42

Pada suatu hari pernah seorang wanita yang lumpuh tangan kanannya menghadap Nabi S.A.W seraya berkata : "Ya Nabiyallah, kumohon sudilah kiranya baginda memohon kepada Allah SWT agar Dia menyembuhkan tangan kananku yang lumpuh ini!"




Nabi S.A.W bertanya kepadanya : "Apakah yang menjadikan tanganmu lumpuh ?"
Maka wanita tadi menceritakan sebab kelumpuhannya :
"Ya, Nabiyallah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba. Neraka Jahannam yang apinya menyala-nyala tergambar dengan jelas dalam impianku, begitu juga surga. Namun betapa hati merasa sedih ketika aku melihat ibuku berada di neraka Jahannam. Dia memegang sepotong lemak dan selembar kain serbet.


Dengan sepotong lemak dan selembar kain serbet itulah ibuku nampak bersusah payah menghalangi panasnya jilatan api neraka Jahannam. Maka aku segera menyapa ibuku : "Aduh ibu, mengapa ibu berada di jurang neraka Jahannam ini ? Padahal setahuku, ibu dulu rajin beribadah kepada Allah SWT, dan ayahpun nampaknya meridhai kebaktianmu ?"
Ibu : "Wahai anakkku, ketahuilah bahwa ibu dulu terlanjur bersifat kikir. Maka inilah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang kikir!"


Anak : "Apakah arti sepotong lemak dan selembar serbet yang ibu pegang itu ?"
Ibu : "Anakku, hanya kedua benda itulah yang pernah kudermakan selama hidup! Selain itu tak ada lagi!"


Anak : "Lalu, sekarang ayah di mana ?"
Ibu : "Wahai anakku, ayahmu dulu seorang yang dermawan. Maka beliau sekarang berada di surga bersama-sama dengan para dermawan lainnya."


Ya Nabiyallah, setelah itu aku pun segera ke surga menghampiri ayahku. Ternyata ayah sedang berdiri di sisi telagamu Ya Rasulullah. Disana beliau membagi-bagikan air minum kepada orang banyak, tetapi ibuku justru dilupakan.


Lalu aku bertanya kepada ayah : "Wahai ayahku, ketahuilah bahwa ibuku yang juga istri ayah, meskipun dulu sama-sama taat beribadah kepada Allah dan ayahpun tampaknya meridhai kebaktian ibu, namun kini dia berada di neraka Jahannam!.


Sementara itu, ayah berada di tempat ini membagi-bagikan minuman dari telaga Rasulullah S.A.W kepada orang banyak. Dan ayah begitu tega melupakan ibu. Maka kumohon wahai ayah, berilah segelas air dari telaga ini untuk kuberikan kepada ibu!"


Kata ayah : "Hai anakku, ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa meminum air telaga Rasulullah S.A.W ini!"


Ya Nabiyallah, mendengar jawaban ayah yang melarangku mengambil air dari telagamu, maka aku nekat mengambil segelas air dari telaga itu tanpa sepengetahuan ayahku. Lalu aku bermaksud memberikannya kepada ibu yang telah lama kehausan. Tiba-tiba terdengar suara: "Semoga Allah melumpuhkan tanganmu, karena kamu telah berani mencuri air dari telaga Rasulullah S.A.W ini untuk memberikan kepada orang yang kikir lagi berdosa!"


Ya Nabiyallah, usai mendengar suara itu, aku terbangun dari tidurku. Dan ternyata tanganku menjadi lumpuh seperti ini. Inilah sebab kelumpuhan tangan kananku, ya Nabiyallah!"


Setelah Nabi S.A.W mendengarkan sebab-sebab kelumpuhan tangan kanan wanita tersebut, maka beliau S.A.W meletakkan tongkatnya pada tangan wanita itu lalu berdoa : "Ya Allah, ya Robb, dengan kebenaran mimpi yang diceritakan oleh wanita ini, maka kumohon sudilah kiranya Engkau berkenan menyembuhkan tangan kanannya yang menderita kelumpuhan !"


Atas doa Nabi S.A.W itu, sembuhlah tangan kanan wanita itu dari kelumpuhannya dan pulih seperti sediakala.
13.42 | 0 komentar | Read More

Siapa Yang Tahu Maksud Allah?

Written By Ella on Jumat, 15 April 2011 | 16.35

Rasulullah pada suatu waktu pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat dzalim. Hampir setiap orang pernah merasakan kezalimannya itu. Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang sangat berat.


Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Dibawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya.



Hingga akhirnya ada seorang Rahib yang mengatakan bahwa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Betapa gembiranya raja mendengar kabar ini. Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul kepermukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib walaupun belum musimnya, ternyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.



Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijakannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali.



Tapi apa yang terjadi? Ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang nampak..! Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun meninggal…



Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat; sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?”



Tuhan pun berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu didunia, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan Aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah !



Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu Aku hukum dia didunia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”



Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah bersayap ini.



Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga; sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita bila sedang tertimpa musibah.



Pelajaran kedua adalah: Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah ‘menghabiskan’ tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.



Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu karena orang itu telah berbuat kekeliruan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.



Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah?
16.35 | 1 komentar | Read More

Akibat Tidak Percaya Diri

Written By Ella on Rabu, 08 Desember 2010 | 14.54

Absen beberapa hari nggak posting, nggak terlalu sibuk juga sebenarnya tapi saya merasa harus mengurangi jam tayang OL untuk lebih menjaga kesehatan, maklum beberapa hari belakangan agak kurang enak badan, jadi perlu tambahan extra waktu untuk beristirahat.
Nah...sekarang udah agak baikan dan mau posting sebuah kisah yang lucu dan bisa kita ambil hikmah didalamnya, agar kita selalu percaya diri terhadap apapun yang kita lakukan selama itu tidak bertentangan dengan syariat dan aturan Allah tentunya.



Ada sepasang suami istri, sebutlah namanya Paijo dan Patmi, mereka memiliki kuda piaraan yang semakin lama semakin kurus dan nampak kurang sehat. Melihat kuda tersebut si istri menyarankan sang suami untuk menjual saja kuda yang tidak berguna tersebut. Tapi Paijo sebenarnya masih sayang sama kuda tersebut, namun si istri dengan cerewetnya menyuruh Paijo untuk menjual kuda tersebut.


Akhirnya Paijopun menurut saja apa kata sang istri untuk menjual kuda tersebut. Maka pada suatu pagi yang cerah berjalanlah sepasang suami istri tersebut menuju ke pasar hewan untuk menjual kuda tersebut. Mereka berdua bergantian menuntun kuda tersebut, karena jarak pasar cukup jauh, Paijo yang kurus nampak terengah-engah napasnya, bahkan keluar suara "ngik-ngik" dari hidungnya. sedangkan Patmi, si istri yang tambun sekali badannya hampir saja jatuh pingsan karena kepenatan berjalan.


Dalam keadaan seperti itu, beberapa orang yang lewat dan memandangi mereka dengan penuh iba. Salah seorang bertanya, "Mau dibawa kemana kuda itu ?"
Paijo menjawab, "Mau saya bawa ke pasar hewan".
"Itu kuda hidup atau kuda mati ?" tanya orang itu lagi.
Paijo heran, "tidakkah kamu liat, kuda inikan masih bisa jalan ?"
"Kalau kuda itu masih hidup, seharusnyakan dinaiki saja bergantian, biar tidak capai !, ujar orang tersebut.
Paijo dan Patmipun berfikir, "wah....benar juga ya..., kenapa nggak dinaiki saja bergantian, biar nggak capai."


Maka Paijo-pun menyuruh istrinya untuk menaiki kuda tersebut dan dia menuntunnya dari depan. Baru beberapa meter mereka berjalan, lewat lagi tiga orang kampung yang baru datang dari kebun. Mereka geleng-geleng kepala sambil berkata, "Dasar istri neraka, mana baktinya kepada suaminya yang kurus begitu, enak-enakan dia yang gemuk duduk diatas kuda sedangkan suaminya dibiarkan terengah-engah berjalan."
Mendengar omongan orang kampung tersebut, si istri langsung segera turun dari kuda, "Bang, engkau saja yang naik kuda, aku turun saja."


Si Paijo kegirangan, memang dia sudah kelelahan. Dia segera naik kuda tersebut dan si istri yang menuntun kuda tersebut dari depan.
Belum lagi hilang penat si Paijo, lewat lagi beberapa orang kampung, dan diantara mereka ada yang paling tua berkata, "Huhuhh...suami kurang ajar, Istrinya yang jalannya kayak siput laut begitu disuruh menuntun kuda, sedang dia malah enak-enakan ongkang-ongkang kaki diatasnya. Barangkali di rumah jadi raja dia, raja terhadap istrinya."
Paijo, sambil menunduk mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut. Begitu mereka sudah berlalu, Paijo segera turun dari kuda tersebut dan kebingungan, "Kenapa semuanya jadi serba salah begini, jadi bagaimana ? ah...ya...kita naiki saja kuda ini berdua", usul Paijo dan istrinyapun menyetujuinya. 


Maka dengan gembira sepasang suami istri tersebut menaiki kuda tersebut. Nah...aman sekarang, begitu fikiran mereka.


Tiba - tiba mereka terkejut oleh suara bentakan, "Hai, manusia kejam ! Itu kuda sudah hampir mampus. Jalan sendiri saja nyaris tidak kuat. Dia, kan juga makhluk Allah. Kalian ini manusia punya akal dan perasaan. Dimana rasa iba kalian, hai manusia kejam ?"


Paijo melihat, yang membentak itu adalah seorang pembesar negeri. Maka cepat-cepat mereka turun. Dipandanginya kuda itu. Betul hampir mati kelelahan membawa beban di punggungnya. Tapi bagaimana caranya membawa ke pasar hewan ? Dituntun salah, dinaiki sendiri dimarahi orang, istrinya yang naik dibilang kurang ajar, dinaiki berdua jadi kejam. Lantas bagaimana ?


Memandangi suaminya kebingungan, si istri memberi saran, "Kita gotong saja, Bang."
"Ah...beetul, itu ide bagus", ujar si suami.


Maka kuda itupun akhirnya diikat pada sepotong kayu, dan di gotong ke pasar hewan. Sesampainya di gerbang menuju ke kota, lewat beberapa orang pedagang, mereka terheran-heran menyaksikan suami-istri yang menggotong seekor kuda.


"Kelihatannya kuda tersebut masih cukup sehat", kata salah seorang dari mereka kepada kawannya.
Maka si pedagang tersebut kemudian bertanya kepada Paijo, "Kuda itu lumpuh ya....?"


Karena yang bertanya seorang pedagang, buru-buru Paijo berkata, "Oh...tidak, kuda ini masih kuat berlari kok."


"Masih kuat lari. Kuda masih kuat lari begitu kok di gotong-gotong seperti itu. Dasar dunia sudah terbalik. Mengapa tidak dituntun saja, biar Bapak dan Ibu tidak capai-capai menggotongnya. Huh dasar kurang waras".


Habis sudah kesabaran Paijo dan Istrinya. Salah saja yang ditemuinya di sepanjang jalan. Maka ditingalkannya saja kuda tersebut dipinggir jalan, dan mereka pulang dengan sia-sia. Itulah keputusan yang diambilnya, keputusan paling bodoh akibat tidak percaya kepada pendirian sendiri.


Karena itu kalau sudah punya niat, perbuatlah dengan segera asalkan tidak bertentangan dengan syariat  agama, dan jangan terombang-ambing dengan perkataan dan pendapat orang lain. Kerjakan sampai selesai dan tercapai apa yang menjadi cita-cita kita.




14.54 | 2 komentar | Read More

Bukannya Mabrur Malah "Babak Belur"

Written By Ella on Rabu, 24 November 2010 | 16.20

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda bahwa ada empat golongan yang ibadah hajinya tidak diterima, yaitu orang kaya yang berangkat haji untuk bertamasya, kaum menengah yang tujuannya untuk berdagang, para cendikiawan, kaum terpelajar atau orang-orang besar yang niatnya hanya untuk didengar dan dilihat orang, dan orang-orang miskin yang maksudnya mau meminta-minta agar cepat kaya.




Syahdan ada seorang hartawan yang karena kayanya, berangkat ke Tanah Suci membawa serta kedua istrinya, Hasanah dan Azizah. Hartawan itu tidak mau belajar tentang manasik atau cara-cara melakukan ibadah haji, karena memang di kampungnya ia terkenal tidak pernah sholat.


Sampai disana ia pun kebingungan. Pada waktu thawaf mengitari Ka'bah ia tidak tahu apa yang harus dikerjakan dan dibaca. Untung ia semapt diberitahu oleh seorang kawannya, bahwa selama melakukan thawaf ia cukup membaca doa "robbana attina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah". Ia sangat gembira lantaran doa itu ia sudah hafal karena sering dia dengar dibaca oleh orang-orang dikampungnya pas ada acara selamatan. Tapi ia cuma hafal sepotong saja, sedang bagian yang lain "wa qina adzaban nar" ia tidak hafal. Jadilah doa itu dibaca, asal tidak malu di depan orang banyak karena ia tidak baca apa-apa.


Maka digandenglah kedua istrinya di kiri dan kanan. Kedua istrinyapun sama dengan dia yang malas sholat dan tidak tahu bagaimana tata cara berhaji, jadi tidak bisa mengucapkan sepotong doa pun, apalagi tahu artinya. Tidak istri yang muda, Hasanah, dan tidak pula istri yang tua, Azizah. 


Maka tatkala sudah tiga kali si suami mengelilingi Ka'bah dengan membaca doa yang di dalamnya selalu diulang-ulang "hasanah-hasanah", istri muda yang bernama hasanah sangat bangga dan melirik dengan sombong ke arah Azizah. Ia menyangka suaminya sedang menyebut-nyebut namanya terus sebagai luapan rasa cinta yang berlebih kepadanya. Sebaliknya si istri tua menjadi panas hatinya dan dadanya nyaris meledak, dikira suaminya hanya teringat kepada Hasanah yang lebih muda dan cantik.


Akibatnya Azizah tidak dapat mengendalikan amarahnya, dengan keras ia menyodok perut suaminya sampai laki-laki itu kesakitan. Si suami memekik : "Mengapa kau sikut aku ? sakit tahu !"
"Habis, dari tadi yang disebut-sebut cuma Hasanah melulu, mentang-menatng ia masih muda dan menarik. Aku sekalipun tidak pernah kaupanggil. Memangnya aku bukan istrimu ?" bentak Azizah, sang istri tua.


Si suami itu rupanya sadar akan "kesalahannya". Maka ia pun cepat-cepat berkata, "Maaf, aku khilaf."
Lalu pada putaran yang keempat ia pun mulai mengubah doanya dengan yang dikiranya sangat "bijaksana", bunyinya menjadi :"robbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati azizah," terus berulang-ulang. Azizah nampak amat lega dan gembira. Ia puas namanya sekarang disebut-sebut juga oleh suaminya tercinta.


Namun apa hendak dikata, pada putaran yang keenam, tiba-tiba ketiga orang suami - istri tersebut ditangkap oleh yang berwajib dengan tuduhan menghina ayat suci dan mengubah-ubah doa Al-Qur'an. Akhirnya mereka bukan memperoleh ibadah yang mabrur, malah pulang ke rumah dengan babak belur.








16.20 | 1 komentar | Read More

"Penjara" Aturan Allah

Written By Ella on Selasa, 16 November 2010 | 08.56

Seekor kelinci muda menampakkan wajah gelisah ketika berada di sebuah kandang. Walau daun-daun segar selalu tersedia setiapkali ia ingin makan, kandang baginya sebuah penjara yang menghalanginya menikmati kebebasan di luar sana.
“Kamu ingin bebas dari kandang ini, anakku?” ucap seekor kelinci tua tiba-tiba. Warna bulunya yang tidak lagi cerah, menunjukkan kalau si pemilik suara itu sudah begitu lama mengenyam kehidupan.

“Tentu saja! Aku ingin bebas di luar sana!” jawab si kelinci muda setelah menoleh ke arah kelinci tua.
Persahabatan dua kelinci itu memang tergolong baru. Ketika kelinci muda dimasukkan ke kandang oleh sang pemilik, kelinci tua sudah ada di situ. Ia tidak tahu persis, sudah berapa lama kelinci tua itu menetap di kandang yang tak lebih baginya sebagai sebuah penjara.
Belum lagi dua kelinci itu melanjutkan percakapannya, tangan sang pemilik tiba-tiba menjulur ke kandang. Sepertinya, tangan itu hendak meraih kelinci tua. Dan benar saja, sang kelinci tua berhasil terpegang setelah sebelumnya menunjukkan penghindaran.
Tangan sang pemilik pun mengeluarkan sang kelinci tua di sebuah rerumputan tak jauh dari kandang. Tapi, kelinci tua itu tidak mau bergerak. Ia tetap diam. Sepertinya, sang kelinci tua ingin kembali dimasukkan kedalam kandang.
Seperti memahami bahasa tubuh kelinci, sang pemilik pun kembali memasukkan kelinci tua kedalam kandang.
“Aneh, kenapa bapak tidak memanfaatkan kesempatan untuk bebas? Apa bapak lebih senang berada di sini daripada di luar sana?” sergah sang kelinci muda sesaat setelah kelinci tua kembali berada dalam kandang.
”Anakku,” ucap sang kelinci tua. ”Tidak selamanya kebebasan itu baik. Justru, aku lebih aman berada dalam kandang ini daripada di luar sana!” lanjut sang kelinci tua.
”Bapak takut berada di luar sana? Bukankah kita bisa berlari cepat jika ada yang membahayakan kita?” tanya kelinci muda lagi.
”Sebenarnya,” jawab kelinci tua. ”Aku lebih takut pada kebebasan diriku sendiri daripada mangsa di luar sana. Karena bagiku, kebebasanlah yang membuatku lengah dari berbagai bahaya. Dan kebebasan pula yang membuatku menjadi bodoh untuk membedakan mana yang aman dan mana yang membahayakan.”



******

Sang Pemilik kehidupan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih: mau bebas atau ’terpenjara’ dalam aturannya. Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang mampu melihat bahwa ’penjara’ itu jauh lebih baik dari kebebasan.
Padahal, seperti yang diucapkan sang kelinci tua, Kebebasanlah yang menjadikan diri bodoh untuk membedakan mana yang aman, dan mana yang bahaya! 



Seperti halnya Sabda Rasulullah :
"Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. (HR. Muslim)"


Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini :


“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.

Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”

(Syarah Shohih Muslim No. 5256)
Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini.






08.56 | 1 komentar | Read More

Rahasia Kehidupan

Written By Ella on Minggu, 07 November 2010 | 12.41

Seorang anak bertanya kepada ibunya : “Mak, mengapa kita miskin ?”
Ibu anak itu berkata : "Hidup ini seperti jalan-jalan di dalam Supermarket, nak...,
Siapa yang membawa tiga coklat, ia akan membayar 3 coklat. Siapa yang hanya dapat satu coklat, ia membayar satu coklat, kita orang miskin tidak kebagian coklat itu nak. Sebab itu di pintu kasir kita tidak diperiksa."

"Orang miskin nanti, akan cepat pemeriksaannya di hari kiamat Sedangkan orang kaya, akan lambat pemeriksaannya", lanjut Mak nya.
“Iya mak” kata anak itu, “Aku percaya”.

“Tetapi kalau kita miskin, aku kan tidak bisa sekolah sampai perguruan tinggi.”
Berlinang air mata ibu itu mendengar keluh anaknya. Ia palingkan wajahnya dan bertanya di dalam hati: Mengapa ya, kita dilahirkan sebagai orang miskin ?


Lalu Si Ibu berkata : “Itu rahasia Tuhanmu nak...., kamu boleh berusaha dan berdo’a untuk merubahnya.”
“Tetapi ingatlah”.
Dan apabila kami beri nikmat kepada manusia Ia berpaling, ia jauhkan dirinya
Dan apabila kejahatan mengenai dia, adalah ia orang yang sangat putus asa.
(Al-Quran, surat Al-Isra’, ke 17 ayat 83)


Lalu si emak melanjutkan: "dan jika kelak kamu menjadi orang yang sukses, ingatlah akan ayat ini :
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui."

(Al-Quran, surat Az-Zumar, ke 39 ayat 49)


“Jadi apa rahasia kehidupan ini mak... ?” Tanya anak itu kepada ibunya.


Kata ibunya : “Rahasia Kehidupan yang pertama : Kita harus selalu bersyukur. Tidak membuang waktu. Kerjakan pekerjaan lain setelah selesai satu pekerjaan. Tidak ada istilah bersantai dalam hidup ini. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke muka.”


12.41 | 9 komentar | Read More

Percakapan Imam Ghazali dengan Muridnya

Written By Ella on Rabu, 03 November 2010 | 09.05

Pasti sudah banyak yang mendengar tentang nasehat Imam Ghazali ini kepada para muridnya. Saya kutip di sini percakapannya untuk merefresh kembali, dan mengambil hikmahnya:

Imam Ghazali = “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”

Murid 1 = “Orang tua

Murid 2 = “Guru

Murid 3 = “Teman

Murid 4 = “Kaum kerabat



Imam Ghazali = “Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati” ( Surah Ali-Imran :185).





Imam Ghazali = “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”

Murid 1 = “Negeri Cina

Murid 2 = “Bulan

Murid 3 = “Matahari

Murid 4 = “Bintang-bintang

Iman Ghazali = “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama“.



Iman Ghazali = “Apa yang paling besar di dunia ini ?

Murid 1 = “Gunung

Murid 2 = “Matahari

Murid 3 = “Bumi

Imam Ghazali = “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”



Imam Ghazali= “Apa yang paling berat didunia?

Murid 1 = “Baja

Murid 2 = “Besi

Murid 3 = “Gajah

Imam Ghazali = “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”



Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

Murid 1 = “Kapas

Murid 2 = “Angin

Murid 3 = “Debu

Murid 4 = “Daun-daun

Imam Ghazali = “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat

Imam Ghazali = “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”

Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang

Imam Ghazali = “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

Hikmah:

  • Perbanyak ibadah sesungguhnya kematian adalah dekat.

  • Pergunakan waktu sebaik mungkin karena kita tidak dapat mengulang masa lalu.

  • Berhati-hati dengan hawa nafsu, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.

  • Tunaikan selalu amanah. Ingat bahwa manusia dan jin diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah semata.

  • Dalam kesibukan apapun, jangan tinggalkan shalat.

  • Berhati-hati dengan ucapan kita, karena melalui lidah kita mudah untuk menyinggung/ melukai hati saudara kita.

09.05 | 0 komentar | Read More
 
berita unik