Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Apakah Sang Pendosa Bisa Masuk Surga ?

Written By Ella on Sabtu, 26 November 2011 | 15.22







Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Aku pernah mendengar
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Ada dua orang
laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu
rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah
selalu berkata kepada saudaranya, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” Suatu
hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, ‘Hentikan
perbuatan dosamu!” (Lelaki yang berbuat dosa berkata), “Biarkan antara
aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?”. Ia (Lelaki yang
rajin beribadah) berkata lagi, “Demi Allah, Allah tidak akan
mengampunimu!” atau “Dia tidak akan memasukanmu ke surga!”



Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh
keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang
berdosa itu,“Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.”




Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah,“Apakah kamu
mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?” Dia menjawab, “Tidak,
wahai Tuhanku.” Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para
malaikat): “Bawalah dia masuk ke dalam neraka.” Abu Hurairah– semoga
Allah meridhainya – berkomentar, “Demi Dzat yang jiwaku ada di
tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan
dunia dan akhiratnya.”(HR Abu Dawud).







Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “…Sekiranya tidaklah karena
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan yang keji dan
mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan apa yang
dikehendaki-Nya…” (QS. An Nur : 21).







“…dan mereka berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki
kami kepada (jannah) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat
petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (QS. Al A’raaf :
43).







Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada satu
jiwapun dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya, baik di surga
atau di neraka.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita
beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja?” Beliau menjawab, “Tidak, tapi
beramallah! Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang telah
ditakdirkan untuknya.” (HR: Bukhari, (VII/212) dan Muslim, (VIII/47, no.
2647).







Hadits ini adalah sebagai dalil  dari apa yang telah disebutkan tadi.
Ia menunjukkan bahwa manusia itu diberi pilihan , yaitu berdasarkan
sabdanya: “Beramallah!” Serta menunjukkan bahwa dalam pilihannya
tersebut ia tidak keluar dari ketentuan Allah, berdasarkan sabdanya:
“Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang ditakdirkan
untuknya.” (Lihat kitab Al Iman bil Qadha’ wal Qadar, oleh Muhammad bin
Ibrahim al Hamd).







Mereka (Ahlu Sunah wal Jama’ah) meyakini bahwa Surga tidak wajib
untuk seseorang meskipun amalnya baik, kecuali jika Allah meliputinya
dengan karunia-Nya lalu ia memasukinya dengan rahmat-Nya. (Lihat Surat
An Nur : 21 diatas). Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak
ada seorangpun yang dimasukkan ke dalam surga oleh amalnya.” Ditanyakan,
“Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga
aku, kecuali Rabb-ku meliputiku dengan rahmat-Nya.” (HR: Muslim no. 2816
(72), Shahih al Bukhari no. 5673 dan takhrij Syaikh al Albani dalam ash
Shahiihah no. 2602).







Ahlu Sunah tidak memastikan adzab bagi setiap orang yang memperoleh
ancaman –selain perkara yang menyebabkan kufur-. Karena mungkin Allah
akan mengampuninya dengan sebab ketaatan-ketaatan yang dilakukannya,
dengan taubat atau musibah-musibah dan penyakit-penyakit yang bisa
menghapuskan dosa-dosa. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ‘Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).






15.22 | 0 komentar | Read More

Al Quran Menjawab TEORI EVOLUSI




 


Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa
Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh
Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh
Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan
oleh Allah di dalam firman-Nya :





"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan
sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah".
(QS. As Sajdah (32) : 7)





"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)





Disamping
itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia
pertama itu dalam surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits
Rasulullah saw bersabda :





"Sesungguhnya manusia itu berasal dari
Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah
". (HR. Bukhari)




Pada
dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu
dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah
berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup
(isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya :





"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan
semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka
maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36)





Adapun PROSES KEJADIAN MANUSIA kedua ini oleh Allah
dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :





"Hai
sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan
kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya,
dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan
yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)





Apabila
kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung
hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha
untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat
semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah
keturunan yang akan meneruskan generasinya.





PROSES
KEJADIAN MANUSIA ketiga
adalah kejadian semua keturunan Adam dan
Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau
menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis.





Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis
dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :





"Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang
Paling Baik."
(QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).





Kemudian
dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :





"Telah
bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan.
Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya
(kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari.
Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah.
Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging.
Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya
(untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal
(umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim)





Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah
menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu
tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al
Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar
kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang
semua berasal dan hidup dari tanah.





Yang kemudian
melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya
menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan
seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel
telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan
bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).





Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio
secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955,
tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini
sudah tercantum.





Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang
embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau
mengatakan : "Saya takjub pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al Qur’an
yang diturunkan pada abad ke-7 M itu". Selain iti beliau juga
mengatakan, "Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para
scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia
yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum
(sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan).





Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan
eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan
yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum
ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh ebelumnya Al Qur’an telah
menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits
menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya."





Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika
(janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung
yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus
(rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut,
kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang
menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok
dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :





"...Dia
menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan
dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)..." (QS. Az Zumar (39) :
6).
11.38 | 0 komentar | Read More

Biaya Pernikahan Putra Presiden SBY dibanding Putra Presiden Iran Ahmadinejad




 


Siapa yang tidak mengenal Presiden
Iran, Mahmud Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat
berani, ia juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan
bersahaja.





Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu
tampak saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, ia menyumbangkan
seluruh karpet istana Iran yang sangat tinggi nilainya kepada masjid di
Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.





Kesederhanaan dan kebersahajaannya itu tampak juga saat ia
menikahkan putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah
ditelusuri, ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta
Toman (setara dengan USD 350/ Rp 2,8 Juta). Meski terbilang sederhana,
pernikahan ini berlangsung dengan khidmat dan syahdu.





Hal
ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden
Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). LSM Bendera
mencatat bahwa Biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp
12 Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi
pernikahan ini menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar.





Pernikahan
Ibas-Aliya juga tidak memperhitungkan dampak negatif terhadap
masyarakat. Pernikahan ini sedikit banyak :


1. Merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1
Cipanas karena diliburkan,


2.
Menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas dan 1000 angkutan umum
Cipanas


3. Merugikan belasan
ribu masyarakat yang akan berbelanja di Pasar Cipanas yang menggunakan
angkutan umum.





Hal berbeda akan kita temukan pada
pernikahan putra Ahmadinejad sebagaimana dilukiskan oleh Seorang
blogger, Javad Matin. Matin melukiskan prosesi pernikahan itu sebagai
berikut: “SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya
diundang ke upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan
berlangsung malam berikutnya.





Saya tahu setiap kali Hari libur Islam di
Iran, datang keluarga itu pergi ke beyt [Istana kepresidenan] dan dia
akan dinikahkan dengan keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda
Revolusi, dan anggota Basij yang tewas dalam perang Irak].





Kamis
malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar
tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa
saya telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra
seorang presiden tidak diadakan di sana.





Saya memasuki
taman dan sadar bahwa saya harus mematikan telepon. Sekelompok orang
berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki aula. Sejumlah meja kosong
karena tamu yang duduk sedang pergi untuk melaksanakan salat.
Buah-buahan dan kue, sebotol air mineral, beberapa piring dan pisau
telah ditata di meja untuk para tamu.





Saya menanyakan
keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para pendukungnya
karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen lalu
lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di halaman
belakang.





Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu
pergi menuju halaman belakang. Saya salat bersama, seorang ajudan senior
kepresidenan, Mojtaba Samareh Hashemi. Kemudian saya kembali ke aula.





Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah
pengantin wanita. Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa
pejabat lain, saya duduk di salah satu meja. Kemudian sang pengantin
pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada setiap tamu dan duduk
di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha Akbari.





Ketua
panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa
doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada
hal-hal yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu
jenis makanan dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28
juta] untuk biaya resepsi.





Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria
sebanyak 180 orang. Saya hanya melihat sedikit pejabat negara. Saya
pernah ke pernikahan pejabat publik sebelumnya dan di sana tidak hanya
ada pengeluaran mewah tapi juga banyak menteri dan pejabat negara yang
hadir.





Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar
penuh dengan kesederhanaan. Ini adalah resepsi rakyat, padahal ayah
sang pengatin pria adalah orang nomor satu di negeri ini.





Dalam
pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal
tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari
mobil yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu sendiri
yang sederhana namun lezat dan harum.





Pembawa acara
resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman yang akan
diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum. Upacara telah
berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita berdiri di
pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu.





Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur
7-8 tahun yang berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan
memperlakukannya dengan baik.





Semua orang telah pulang dan sang doktor
menuju dapur untuk menyampaikan terima kasih kepada mereka yang bekerja
untuk resepsi. Ketika semua orang telah pergi, pengantin pria dan wanita
masuk ke mobil mereka tanpa ada formalitas tambahan dan pulang ke rumah
dengan keluarga.








Sudah menjadi hak setiap orang untuk
melaksanakan pernikahan dengan kemewahan, terlebih lagi menggunakan uang
pribadi. Namun, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib, seorang
pemimpin memiliki kekhususannya tersendiri. Dengan tanggung jawab yang
lebih besar, dia harus bisa menyesuaikan dan merasakan kehidupan rakyat
terbawah yang dipimpinnya.
11.02 | 0 komentar | Read More
 
berita unik