Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Dua Umar dan gempa

Written By Ella on Rabu, 03 November 2010 | 14.17

Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"




Begitu pula di Masa Khalifah Umar Bin Khattab, ketika terjadi Gempa di masa kekhalifahannya, Beliau ingat akan perkataan Rasulullah  tersebut. Dan Beliau berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"


Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.



Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.


Begitu pula di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."



"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15).  Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."



"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka inni kuntu minadholimiin, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."



Jika saja kedua Umar  ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras,  inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Wallahu a'lam.
14.17 | 2 komentar | Read More

Percakapan Imam Ghazali dengan Muridnya

Pasti sudah banyak yang mendengar tentang nasehat Imam Ghazali ini kepada para muridnya. Saya kutip di sini percakapannya untuk merefresh kembali, dan mengambil hikmahnya:

Imam Ghazali = “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”

Murid 1 = “Orang tua“

Murid 2 = “Guru“

Murid 3 = “Teman“

Murid 4 = “Kaum kerabat“



Imam Ghazali = “Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati” ( Surah Ali-Imran :185).





Imam Ghazali = “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”

Murid 1 = “Negeri Cina“

Murid 2 = “Bulan“

Murid 3 = “Matahari“

Murid 4 = “Bintang-bintang“

Iman Ghazali = “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama“.



Iman Ghazali = “Apa yang paling besar di dunia ini ?“

Murid 1 = “Gunung“

Murid 2 = “Matahari“

Murid 3 = “Bumi“

Imam Ghazali = “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”



Imam Ghazali= “Apa yang paling berat didunia?“

Murid 1 = “Baja“

Murid 2 = “Besi“

Murid 3 = “Gajah“

Imam Ghazali = “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”



Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

Murid 1 = “Kapas“

Murid 2 = “Angin“

Murid 3 = “Debu“

Murid 4 = “Daun-daun“

Imam Ghazali = “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “

Imam Ghazali = “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”

Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang “

Imam Ghazali = “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

Hikmah:

  • Perbanyak ibadah sesungguhnya kematian adalah dekat.

  • Pergunakan waktu sebaik mungkin karena kita tidak dapat mengulang masa lalu.

  • Berhati-hati dengan hawa nafsu, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.

  • Tunaikan selalu amanah. Ingat bahwa manusia dan jin diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah semata.

  • Dalam kesibukan apapun, jangan tinggalkan shalat.

  • Berhati-hati dengan ucapan kita, karena melalui lidah kita mudah untuk menyinggung/ melukai hati saudara kita.

09.05 | 0 komentar | Read More

Mengapa Bencana Beruntun Terjadi di Negeri kita ?

Written By Ella on Senin, 01 November 2010 | 08.20

Di pagi yang lumayan dingin di temani sepiring Mie goreng, habis laper dan nggak ada pilihan makanan (dimakan saja, walaupun katanya kurang baik buat kesehatan).
Hari ini  aku pingin celoteh sedikit tentang banyak bencana yang menimpa negeri kita, mulai dari Wasior, Mentawai, Merapi belum lagi kecelakaan-kecelakan transportasi yang juga cukup dominan terjadi.
Sebenarnya kenapa hal ini terjadi, apakah ini kesalahan manusia sehingga Allah mengazab bangsa ini dengan banyaknya bencana yang terjadi atau mungkin ini bentuk ujian bagi kita agar kita bisa mengambil hikmah di dalamnya, atau mungkin kita dengan mudah mengatakan :"ah...ini sudah takdir, seakan-akan kita menyalahkan "takdir" menyalahkan "alam" bahkan "menyalahkan Sang Pembuat Takdir.



Kalau kita runut ke belakang memang sejak Pemerintahan SBY, banyak sekali bencana yang terjadi, mulai dari bencana terbesar dan mengguncangkan dunia, tsunami Aceh yang terjadi tepat di masa awal Pemerintahan Presiden yang sekarang. Dan kemudian diikuti oleh banyaknya bencana-bencana lain yang terjadi. Aku jadi berfikir dan sempat bertanya-tanya dalam hati :"Apa mungkin ya...Presiden kita yang sekarang kurang laku tirakatnya (istilah Jawanya untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik), sehingga bencana seringkali menghinggapi di masa pemerintahannya. ( ah..ini hanya pemikiranku semata loh..)



Tidak seperti Presiden yang sebelumnya yakni Presiden Soekarno dan Soeharto yang memang dikenal cukup kuat laku tirakatnya. Wah...kok jadi ngomongin presiden ya..?


Kembali ke soal bencana, kalau dalam pandangan saya ada 2 hal yang bisa kita ambil kesimpulan :
Yang pertama soal bencana seperti tsunami, gempa, letusan gunung, atau mungkin angin puting beliung yang memang sulit diprediski terjadinya, untuk hal ini yang bisa dilakukan hanya meminimalisir efek kerusakan yang diakibatkannya, misalnya dengan membangun rumah tahan gempa mengingat negara kita meruapakan daerah rawan gempa, memasang sirene tanda bahaya kalau gempa dan  tsunami terjadi, serta sirene tanda Gunung berapi yang akan meletus.



Lalu bagaimana dengan kecelakaan semacam jatuhnya pesawat atau tergelincirnya kereta dari relnya ? maka disini bisa dijelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini terikat dalam hukum sebab-akibat yang semuanya sudah diatur oleh Allah. Kehendak Allah bisa juga diartikan dengan Sunnatullah. Misalnya Api pada oleh air atau kulit keriput ketika tua, itu adalah sebuah aturan, Allah sudah menentukan segalanya sesuai dengan ukuran. Kapal tenggelam, jatuhnya pesawat, tergeleincirnya kereta  pasti ada sebabnya, dari itulah manusia diberikan Allah akal fikiran untuk belajar memperbaiki kesalahan-kesalahannya.


Dan sebagai manusia seharusnya kita bisa mempelajari sunnatullah  di bumi sehingga kita bisa memperbaiki diri agar tidak terulang lagi bencana bencana yang masih bisa kita hindari. Contohnya seperti tanah longsor yang diakibatkan oleh maraknya illegal loging, atau banjir yang melanda kota Jakarta.



Seharusnya pengalaman yang ada menjadikan pembelajaran untuk bertindak lebih baik lagi, bukannya psrah dan menyalahkan alam akan semua ini.

Seperti yang telah di sebutkan dalam Al-qur'an surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya :



"Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbautan tangan manusia supaya Allah meraskan kepada mereka sebahagian dari akibat perbautan  mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar"
08.20 | 1 komentar | Read More
 
berita unik